Menghemat Biaya dengan Femtocell 4G Benarkah Efektif?
Jawaban singkatnya: bisa banget efektif, tapi nggak otomatis.
Femtocell 4G itu hemat kalau konteksnya pas, backhaul-nya rapi, dan parameternya dituning bener.
Kalau asal colok, ya… siap-siap drama call drop, VoLTE putus-putus, dan KPI jeblok.
Saya pernah “kecele” di satu gedung 12 lantai.
Owner maunya murah, cepat, dan indoor coverage langsung cling.
Saya sodorin femtocell (HeNB) beberapa unit, mikirnya: kecil, murah, plug-and-play. Ternyata, nggak semudah brosur.
Awalnya kami pasang 6 unit untuk 3 lantai kritis.
RSRP naik dari -102 dBm ke sekitar -78 dBm, SINR membaik di kisaran 7–12 dB.
User bilang browsing jadi ngebut, VoLTE lumayan stabil. Happy? Eits, belum.
Masalah mulai muncul jam sibuk.
Backhaul mereka pakai internet kantor yang sharing sama CCTV dan meeting video.
Jitter naik, packet loss 0.5–1%. VoLTE langsung kedengaran “robot”. Komplain masuk, CFO pun nanya: “Katanya hemat?” Aduh.
Pelajaran mahal: femtocell hemat kalau ekosistemnya juga hemat-cerdas.
Bukan cuma perangkatnya yang murah, tapi aliran datanya (QoS), sinkronisasi (waktu & frekuensi), dan interferensi yang terkendali.
Femtocell 4G Itu Apa, Singkat Aja
Femtocell (biasa disebut HeNB) adalah small cell LTE berdaya rendah untuk indoor.
Dia siaran di spektrum berlisensi operator (bukan Wi-Fi), lalu balik ke core lewat S1 interface via internet (umumnya terenkripsi IPsec).
Bisa open access (siapa pun pelanggan operator bisa attach) atau CSG/closed (hanya user yang di-whitelist).
Kelebihan: coverage indoor meningkat dramatis, dan ada kapasitas lokal tambahan.
Kekurangan: butuh backhaul bagus dan tuning supaya nggak berantem sama makro.
Efektif Secara Biaya? Yuk Bedah Biaya Benerannya
CAPEX (biaya awal)
-
Perangkat femtocell: unit kecil sampai enterprise (harga bervariasi banget antar vendor & operator).
Biasanya jauh lebih murah dari DAS atau pico/micro eNB kelas enterprise. -
Instalasi ringan: bracket, power, grounding, PoE/switch kecil, patching kabel rapi.
Tenaga kerja tetap ada, tapi nggak seganas proyek DAS. -
Lisensi / provisioning: kadang ada biaya aktivasi atau lisensi fitur (per operator kebijakan beda).
OPEX (biaya jalan)
-
Backhaul internet: idealnya internet dedicated/VLAN QoS.
Shared internet boleh, tapi siap-siap kalau meeting online kantor “mencuri” bandwidth. -
Monitoring & maintenance: NOC butuh pantau alarm. Firmware update.
Kadang jarang, tapi ketika ada, ya harus disamperin (truck-roll kecil juga biaya). -
Listrik: kecil sih, femto biasanya belasan watt. Tetap dihitung.
Perbandingan kasar (rule-of-thumb pengalaman lapangan, bukan harga vendor spesifik):
-
Femtocell cluster 4–8 unit untuk kantor ≤3.000 m² bisa closing biaya jauh di bawah DAS multi-operator.
-
DAS menang di skala besar dan multi-operator, tapi CAPEX/OPEX awal “kerasa”.
-
Repeater memang super murah, tapi hanya coverage, bukan kapasitas, dan bisa naikin noise uplink kalau donor RSRP jelek.
-
Wi-Fi Calling nyaris nol CAPEX perangkat seluler, tapi QoS & device readiness bikin pengalaman nggak konsisten, juga nggak nambah kapasitas radio LTE.
Jadi hemat biaya? Sering iya, jika: target area kecil–menengah, pengguna simultan ≤100, dan butuh upgrade cepat.
Kalau area luas, multi-operator, dan trafiknya berat, femtocell bisa jadi “tambal sulam” yang ujungnya malah mahal.
Syarat Teknis Supaya Hematnya Bener-Bener Kejadian
1) Backhaul & QoS (ini kunci)
-
Target latensi end-to-end VoLTE rapi. Jitter rendah (< 20–30 ms itu enak).
Packet loss < 0.5% lebih aman. Kalau lewat, suara mulai aneh. -
Upstream jangan pelit. Satu sel kecil aktif dengan beberapa user data/VoLTE butuh headroom.
Angka pastinya beda tiap vendor, tapi pikirkan buffer real. Jangan pakai “angka brosur” mentah. -
Pisahkan trafik femtocell dari CCTV/streaming internal.
VLAN + QoS marking akan menyelamatkan mood semua orang.
2) Sinkronisasi (waktu & frekuensi)
-
PTP (IEEE 1588) ideal, atau GPS kalau ada view langit (sering susah indoor).
NTP bisa dipakai, tapi akurasinya terbatas untuk radio timing ketat.
Salah sinkron bisa bikin handover berantakan dan interferensi.
3) Interferensi & Planning
-
EARFCN dan bandwidth: jangan tabrak spektrum makro utama jika tidak dikelola eICIC/ABS.
-
PCI planning: hindari PCI collision/confusion. Walau kecil, dia tetap sel LTE.
-
Neighbor list & X2/S1 handover: inbound/outbound harus mulus.
-
eICIC/ABS (kalau ada): atur pattern agar makro–femto nggak “teriak-teriakan”.
-
Parameter reselection/handover: A3 offset, Qrxlevmin, SIntraSearch itu bukan hiasan.
Saya pernah terlalu agresif—hasilnya ping-pong HO. Pengguna pusing.
4) Mode Akses: Open vs Closed
-
Closed (CSG) bikin kapasitas fokus ke user internal, tetapi user tamu bakal kesal karena “nempel tapi ditolak”.
-
Open lebih ramah, tapi trafik bisa membengkak.
Saran saya: open dengan rate limit/QoS policy, atau closed plus guest list untuk tenant penting.
5) Target KPI Radio
-
RSRP di area pengguna: -70 s.d. -85 dBm (idealnya di tengah rentang).
-
RSRQ lebih baik dari -10 dB untuk VoLTE stabil.
-
SINR > 5–10 dB bikin throughput/voice makin mantap.
Angka ini guideline. Di lapangan, kadang sedikit lebih buruk masih acceptable, asal konsisten.
Kapan Femtocell Itu Pilihan Terbaik?
-
Gedung kecil–menengah (≤3.000 m²), 20–100 user simultan.
-
Waktu implementasi mepet (minggu, bukan bulan).
-
Anggaran terbatas, tapi owner tetap ingin VoLTE stabil.
-
Makro indoor RSRP jelek (< -95 dBm) dan repeater tidak feasible (donor lemah).
-
Tidak butuh multi-operator (atau operator lain nanti nyusul solusi terpisah).
Kapan bukan terbaik:
-
Mall/RS besar multi-operator, trafik heavy, butuh coverage merata semua lantai—biasanya DAS menang telak.
-
Pabrik luas dengan forklift/AGV dan latensi sensitif: femto bisa, tapi sering ujungnya butuh pico/micro terencana.
Contoh Real di Lapangan (yang sukses dan yang bikin keringat)
Kasus 1 (Sukses): gudang logistik 2 lantai, dinding metal, makro cuma -100 dBm.
Pakai 4 femtocell, backhaul internet dedicated 50 Mbps, VLAN + QoS.
RSRP naik ke -78 dBm rata-rata, VoLTE bagus, throughput DL 20–60 Mbps per user di jam normal.
Tuning: neighbor list ke makro + A3 offset kecil supaya egress mulus saat pekerja pindah keluar gedung.
Biaya? Jauh di bawah DAS. Owner senyum. Saya juga.
Kasus 2 (Problems): kantor 10 lantai, internet shared, meeting video saban jam.
Pasang 6 femtocell, tapi QoS nggak dipisah.
Hasil: saat townhall, jitter meledak, VoLTE serak, handover sering telat.
Solusi: pisahkan VLAN, prioritas trafik S1, refine eICIC ringan, ubah CSG ke open pada jam kerja.
Setelah itu baru stabil. Jadi hemat? Ya—setelah opsi QoS dikerjakan bener.
Checklist Cepat (Biar Hematnya Nyata, Bukan Wacana)
-
Audit makro indoor: kalau RSRP sudah -85 dBm merata, kadang cukup tilt/retune, femto belum perlu.
-
Uji backhaul: ping/jitter/loss real di jam sibuk. Kalau jelek, femto akan “ikut jelek”.
-
Rancang neighbor & PCI: kecil tapi lengkap. Hindari ping-pong.
-
Siapkan sinkronisasi: PTP/GPS kalau memungkinkan, NTP hanya last resort.
-
Pilih mode akses: open + QoS atau closed + guest. Jangan abu-abu.
-
Grounding & power: sederhana tapi proper. Jangan colok asal.
-
Monitoring: alarm radio & IPsec, throughput, VoLTE KPIs (MOS/RTCP).
-
Safety & regulasi: femtocell itu spektrum berlisensi—harus lewat operator. Ini wajib.
Angka Kasar untuk Ngitung-Ngitung (Ilustratif)
Misal kantor 2.500 m² butuh 6 femto.
-
CAPEX: perangkat + instalasi ringan + switch PoE mini + bracket.
-
OPEX: internet dedicated 50–100 Mbps dengan QoS (bulanannya segini-segini), listrik kecil, monitoring.
Bandingkan dengan DAS yang butuh headend, tapper, kabel feeder tebal, antena sebar, site survey intens, dan integrasi multi-operator.
Seringkali, total biaya 12 bulan femto lebih rendah. Tapi kalau butuh multi-operator sejak hari pertama, kalkulasinya berubah.
Saya sengaja tidak menaruh nominal fix karena beda vendor/operator bisa selisih jauh.
Gunakan pendekatan TCO: 12–24 bulan, bukan 1 bulan. Hemat itu total biaya, bukan hanya harga perangkat.
Hal-Hal yang Sering Bikin Gagal Hemat
-
ISP jelek tapi ngotot femto.
Kualitas suara akan memburuk. Hemat jadi boomerang. -
PCI tabrakan di cluster kecil.
Kelihatannya remeh, tapi efeknya nyata: attach lambat, HO nggak mulus. -
Parameter default dibiarkan.
A3 offset salah dikit, sudah ping-pong. Tenang, disetel, bukan dibiarkan. -
Closed akses tanpa sosialisasi.
Tamu/tenant marah, komplain ke manajemen. Reputasi jatuh. -
Kurang sinkronisasi.
Time/frequency drift bikin eICIC/HO nggak sinkron. Frustrasi.
Apakah Femtocell Benar-Benar Efektif Menghemat Biaya?
Iya, kalau:
-
Skala kecil–menengah, single-operator, butuh cepat.
-
Backhaul disiapkan, QoS jelas, VLAN rapi.
-
Planning radio minimal dilakukan (EARFCN, PCI, neighbor, eICIC kalau perlu).
-
Target KPI realistis, monitoring hidup.
Tidak atau setengah-setengah, kalau:
-
Diharapkan menggantikan DAS multi-operator di mal besar.
-
Internet dipakai rame-rame tanpa prioritas.
-
Parameter radio “asal jadi”.
-
Owner maunya murah tapi kepengin performa stadion. Ya susah.
Penutup (dan Sedikit Kejujuran)
Saya suka femtocell karena time-to-value-nya cepat.
Tapi femtocell bukan tongkat sihir. Tanpa QoS, tanpa planning, dia cuma pemancar kecil yang ikut-ikutan bermasalah.
Kalau mau hemat beneran, mulailah dari:
-
ukur makro indoor, 2) tes backhaul di jam sibuk, 3) rancang neighbor + PCI, 4) tentukan mode akses, 5) siapkan sinkronisasi.
Habis itu, deploy batch kecil dulu (pilot 2–3 unit) dan lihat KPI seminggu. Kalau bagus, scale up.
Saya pernah salah langkah, dan itu wajar.
Yang penting, salahnya murah dan cepat dibetulkan. Dengan femtocell, asal disiplin, biasanya bisa.
Dan ketika KPI naik tanpa bangkrut, semua orang akan bilang: “Ternyata efektif juga, ya.”
Baca juga : Cara Kerja Femtocell 4G